koding

Selamat Datang di Laman Situs Hindu- Budha Kawasan Sumatera, Madura, dan Kalimantan Republik Indonesia. Selamat Menambah ilmu. Lestarikan Cagar Budaya Kita ! Sadarkan Masyarakat Kita ! UU No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR:PM.49/UM.001/MKP/2009 TENTANG PEDOMAN PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA DAN SITUS.

Kamis, 20 Februari 2014

BIARO TANDIHAT III

PROVINSI SUMATERA UTARA
KABUPATEN PADANG LAWAS

            Biaro Tandihat 3 berada di Desa Gunung Manaon, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. Biaro secara geografis terletak pada 01°22' 27’2" LU dan 99°45'14’9" BT. Jarak Biaro Tandihat-3 dari Biaro Tandihat-2 adalah 1,2 km. Di sebelah barat biaro tersebut terdapat tebing curam dan meander Sungai Barumun yang  mengalir ke utara. Ketika tahun 1935 Schnitger mengunjungi situs tersebut penduduk setempat menyebut Biaro Longgong, karena terletak di dusun Longgong. Penduduk setempat juga menyebut biaro tersebut dengan nama Kuburan Anjing. Pada 1935 terdapat stambha dan temuan lain yang sekarang disimpan di Museum Negeri Sumatera Utara.
a) Biaro Induk
         Biaro induk ditandai dengan gundukan berukuran tinggi 2 meter dengan diameter 10 meter berupa bangunan dengan bahan batupasir (sandstone}. Di dekat gundukan tersebut terdapat bagian bangunan dari batu pasir yang berbentuk lapik berukuran 65 X 56 dan tebal 25 cm serta tinggi 21 cm.

b) Biaro Perwara
             Biaro Perwara berada di timur biaro induk berbentuk empat persegi berukuran 11,20 X 10.80 meter dan tinggi 170 cm. Di atas gundukan 2 terdapat batu candi berbentuk persegi empat dengan salah satu bagian agak membulat dengan tebal 23 cm, bagian tengah terdapat cerat berukuran 19 X 18 cm.
c) Stambha
              Temuan penting yang berasal dari biaro ini adalah stambha berukuran besar.Stambha mempunyai dasar oktagonal dengan bagian tengah membentuk lingkaran. Bagian badan stambha dihias 4 kepala kala di keempat sisi. Di bagian atas terdapat 4 relung berbentuk segiempat, yang diisi relief Tataghāta duduk pada singgasana polos, hanya dada kiri yang ditutupi, selebihnya tidak mengenakan pakaian. Sikap tangannya dhyanimudra (di barat) dan abhayamudra (di utara).
Di bagian sudut dipahatkan arca singa. Bentuk asli stambha tinggi 1,85 meter bagian paling atas terdapat lobang berbentuk segi empat yang mungkin dimasuki pasak. Menurut Schnitger (1937: 22-23) stambha tersebut didirikan pada pondasi batu alam, berukuran 2 X 2,5 meter.
 
 
 Sumber : Kepurbakalaan Padang Tinjauan Literatur

BIARO TANDIHAT II

PROVINSI SUMATERA UTARA
KABUPATEN PADANG LAWAS

        Biaro Tandihat-2 terletak di Desa Tandihat, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara, jaraknya 0,48 km ke timur laut dari Biaro Tandihat 1. Secara geografis Biaro Tandihat-2 terletak pada 01°24'41,7" LU dan 99°45'20,6" BT, dengan ketinggian 71 meter di atas permukaan laut. Di sebelah barat daya Biaro Tandihat-2 terdapat Sungai Barumun yang mengalir dari barat ke timur berbelok 90° ke utara. Biaro yang ada berupa sisa- sisa biaro yang tertimbun tanah berjumlah 4 gundukan.
a) Biaro Induk
          Gundukan 1 merupakan biaro induk tingginya 3 meter yang di bagian bawahnya terdapat dua makara dari batu pasir (sandstone). Penggalian 1994 pada gundukan-1 diketahui bahwa penampil tangga naik berada di timur, oleh sebab itu dapat dipastikan bahwa biaro Tandihat-2 menghadap ke timur. Bagian penampil yang menjorok ke timur berukuran 150 X 250 cm, dan tingginya 60 cm, lebar pipi tangga 40 cm, ukuran lebar tangga naik 170 cm, dan tinggi kaki biaro yang masih tersisa 100 cm. Pada ujung pipi tangga masing-masing diakhiri dengan makara.Kumai bawah biaro berupa birai padma dan birai kumuda dan birai rata (patta)
(Tim Penelitian Barumun 1995: 30-36). Denah bangunan biaro induk berbentuk empat persegi panjang membujur arah utara – selatan. Ukuran denah kaki bangunan adalah 4 X 6 meter Tubuh bangunan dibangun di atas kaki biaro berukuran lebih kecil dari bagian kakinya yaitu 12 m². Di sekeliling tubuh bangunan terdapat selasar yang lebarnya 1 meter. Jika dilihat dari runtuhan bangunan, diduga tubuh bangunan tidak merupakan suatu bangunan berdinding (mempunyai ruangan) (Tim Penelitian Barumun 1995: 37). Kumai bawah biaro berupa birai padma dan birai kumuda dan birai rata (patta) (Tim Penelitian Barumun 1995: 30-36). Denah bangunan biaro induk berbentuk empat persegi panjang membujur arah utara – selatan. Ukuran denah kaki bangunan adalah 4 X 6 meter Tubuh bangunan dibangun di atas kaki biaro berukuran lebih kecil dari bagian kakinya yaitu 12 m². Di sekeliling tubuh bangunan terdapat selasar yang lebarnya 1 meter. Jika dilihat dari runtuhan bangunan, diduga tubuh bangunan tidak merupakan suatu bangunan berdinding (mempunyairuangan) (Tim Penelitian Barumun 1995: 37). 

b) Biaro Perwara
          Di sebelah timur gundukan Biaro Induk pada jarak 10 meter terdapat gundukan tanah dengan ketinggian 20 cm. Temuan penting dari Biaro Tandihat-2 adalah prasasti yang dipahatkan pada kaki kiri depan arca singa yang telah hilang bagian kepalanya. Prasasti tersebut menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Jawa Kuna yang berbunyi Buddha i swakarma yang artinya Buddha dengan sebab akibat sendiri untuk penderitaan dan kebahagiaan. (Setianingsih dkk. 2003:9) Unsur bangunan yang terdapat di Biaro Tandihat 2 adalah:
c) Makara di sebelah kiri pipi tangga
       Makara ditempatkan di sebelah utara tangga naik, pada saat dilakukan penelitian \makara 50 % tertimbun tanah, oleh karena itu deskripsi dilakukan berdasarkan hasil penggalian pada Biaro Tandihat-2 tahun 1995. Makara dibuat dari batu pasir (sandstone) dengan ukuran tinggi 110 cm, panjang 51 cm, lebar bagian depan 33 cm dan lebar bagian belakang 33 cm. Hiasan berupa sulur daun pada bagian belakang, dan di mulut makara digambarkan tokoh prajurit memakai mahkota dari pilinan rambut, memakai anting berbentuk lingkaran, dan memakai celana yang diikat dengan sampur. Tangan kirinya memegang perisai polos, sedangkan tangannya memegang pedang yang diarahkan ke atas di bagian belakang kepala. Tokoh digambarkan dalam posisi berdiri agak miring ke kanan, di atas deretan gigi. Kaki kanannya sedikit ditekuk, dan kaki kirinya miring ke kiri. Mengenakan kain di bagian perut dan paha, terdapat juntaian sampur di antara kedua kaki (Tim Penelitian Arkeologi Barumun 1995: 28).

 d) Makara di sebelah kanan pipi tangga
        Makara terletak di sebelah selatan pipi tangga, keadaannya sudah sangat aus. Makara berukuran tinggi 110 cm, panjang 43 cm, lebar belakang 32 cm dan lebar depan 39 cm. Bagian atasnya sudah tompel. Di bagian belakang berupa hiasan sulur daun, di mulut makara digambarkan tokoh prajurit dengan wajah raksasa, matanya melotot dan bertaring. Tokoh digambarkan dalam posisi berdiri tegap, memakai hiasan mahkota dari pilinan rambut, memakai anting berbentuk bulat, dan memakai celana yang diikat dengan sampur. Tangan kirinya memegang perisai yang berbentuk seperti bunga, tangan kanan memegang pedang yang disandarkan pada pundak kanan (Tim Barumun 1995: 30).
e) Arca Singa berinskripsi
          Arca singa terbuat dari batu, disimpan di Museum Sumatera Utara. Bagian kepala arca telah hilang dan bagian badan aus. Arca berukuran tinggi 50 cm, panjang 27 cm, dan lebar 28 cm. Terdapat surai yang dipahatkan di bawah dagu bersusun tiga, di bawah perut terdapat pola hias sulur. Pada kaki depan kiri terdapat inskripsi buddha i swakarmma yang berarti Buddha dengan perbuatan (karma) nya sendiri. Di antara dua kaki depan terdapat pahatan singa kecil.
                                f) Arca Awalokiteçwara (Padmapani )
     Padmapani adalah nama lain Bodhisattwa Awalokiteçwara yang mendapatkan namanya dari penggambarannya yang diwujudkan sebagai pemegang padma (Ayatrohaedi, dkk 1978: 116). Arca terbuat dari perunggu ditemukan oleh penduduk di sekitar Biaro Tandihat-2, sekarang disimpan di Museum Negeri Sumatera Utara. Kondisi arca agak aus dalam sikap duduk bersila di atas padmasana tunggal. Tokoh bertangan dua, tangan kanan dalam sikap
waramudra, telapak tangan kiri patah. Pada Jatamakutanya terdapat tokoh amitabha. Jamangnya berhias simbar dengan pola sulur tetapi aus. Memakai gelang polos. Selempang dada agak lebar dengan simpul di bahu kiri, menurun makin lebar ke pinggang kanan. Di kedua bahu terdapat rambut ikal terjuntai. Di kanan kiri pinggul terdapat rimpel sampur berbentuk pita ujungnya mengarah ke asana. Di samping pinggul kiri terdapat rumpun lotus, berupa bonggol, daun dan tangkai (Susetyo dkk 2009: 49). Awalokiteçwara adalah  
Boddhisattwa yang bertugas masa kini. Ia adalah emanasi Amitābha sehingga arca Dhyānibuddha Amitābha selalu terlihat pada mahkotanya. Awalokiteçwara digambarkan dalam berbagai variasi tergantung pada aspeknya. Aspek-aspek Awalokiteçwara yaitu Amoghāpasa, Lokanātha, dan Padmapani. Arca Awalokiteçwara digambarkan bertangan 1-1000 (hanya ditemukan di Tibet). Di Indonesia terbanyak bertangan 10 disimpan di muse guimet (Ayatrohaedi, dkk 1978: 22-23). Di China Awalokiteçwara disebut Dewi Kwan Yin (Ayatrohaedi, dkk 1978: 29). Boddhisattwa adalah seseorang yang hampir dan mampu menjadi Buddha namun kemudian mengurungkan niat kebuddhaannya dengan maksud agar dapat menolong manusia lain untuk mencapai kebuddhaan, oleh karena itu ia dianggap suci. Ia adalah orang yang telah terlepas dari samsara. Sepanjang sejarah manusia dikenal 24 Boddhisattwa dari masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang. Boddhisattwa yang penting adalah yang sekarang yaitu Awalokiteçwara. sedangkan yang akan datang adalah Maitreya (Ayat Rohaedi, dkk 1978: 28).
g) Arca Boddhisattva Manjuçri
           Arca perunggu dalam sikap duduk di atas padmasana ganda bulat aus pada wajahnya. Padmasana berada di atas lapik segi 4 berprofil. Bagian tengah lapik yang mengecil berhias lubang tembus berbentuk garis vertikal dan garis silang. Tokoh bertangan dua, tangan kanan direntangkan ke samping, telapak tangan hilang. Tangan kiri ditekuk ke depan, telapak tangan di depan dada memegang pustaka (?). Mahkota meninggi, mungkin jatamakuta, jamang berhias simbar yang runcing. Hiasan telinga aus. Di kedua bahu terdapat rambut ikal terjurai.  

Upawita berupa tali polos. Ikat pinggang berhias pola bunga berbentuk bulatan-bulatan. Gelang siku, gelang tangan dan gelang kaki berhias pola bulatan. Kelat bahu (keyūra) berhias simbar dengan pola bunga berbentuk bulatan-bulatan. Mengenakan kain sampai di atas lutut. Sampur tampak di atas paha, simpulnya di kanan kiri pinggul (Susetyo, dkk 2009: 49). Boddhisattva dengan atribut membawa pustaka adalah Boddhisattva Manjuçri.

h) Arca Buddha dari Tandihat-2
  Arca Buddha perunggu disimpan di Museum Negeri Sumatera Utara. Arca dalam sikap berdiri abhangga mempunyai pasak di bawah telapak kakinya. Tinggi seluruh arca tersebut 36 cm. Tangan kanan dalam sikap Vitarkamudra memegang ujung jubah. Jubah uttârasańga yang menutupi kedua bahu tampak transparan sehingga bagian atas dari baju dalamnya
(antarvâsaka) kelihatan dalam bentuk garis tebal melingkari perut. Panjang antarwâsaka dan uttârasańga sama, pada mata kaki tepi kain lebih tebal, menunjukkan batas uttârasańga. Seperti arca Buddha pada umumnya, arca ini bertelinga panjang. Mempunyai usnisa yang dihiasi semacam ratna. Prabha / Siraścakra berbentuk bulat telur mengelilingi kepala sampai pundaknya, di bagian pinggirnya dihias dengan pola lidah api, di antara manik manik dan pola sulur. Secara umum arca ini menunjukkan kesamaan dengan arcaarca India Selatankhususnya dari masa Chola, (Sri Hardiati, 1997: 241). Penggambaran seni Chola seperti pada arca Buddha tersebut berkembang pada pada abad ke-11-12 Masehi (Utomo dan Nik Hassan Shuhaimi 2008: 240).

Sumber : Kepurbakalaan Padang Tinjauan Literatur